Monthly Archives: April 2021

Cristiano Ronaldo Pemain Sepakbola Termahal

Cristiano Ronaldo adalah pemain sepakbola yang berasal dari Portugal. Ia juga dikenal sebagai pemain sepakbola yang paling terbaik sepanjang masa. Pada tahun 2009, Cristiano Ronaldo mulai bergabung dengan Real Madrid dari Manchester United dengan biaya transfer sekitar US$ 132 juta kalau dirupiahkan setara dengan Rp 1,8 triliun, yang mana memembuatnya menjadi pemain sepak bola termahal dalam sejarah persepakbolaan tersebut. Pada tahun 2019, kekayaan bersih yang dimiliki oleh Cristiano Ronaldo diperkirakan mencapai US$ 450 juta kalau dirupiahkan sekitar Rp 6,3 triliun dan menjadikannya sebagai pemain sepakbola terkaya di dunia.

Awal Karier Cristiano Ronaldo

Cristiano Ronaldo dos Santos Aveiro lahir pada pada tanggal 5 Februari 1985 di Santo António, Funchal di Madeira, Portugal. Dia adalah anak bungsu di mana ibunya bernama Maria Dolores dos Santos Aveiro yang bekerja sebagai seorang juru masak dan ayahnya bernama José Dinis Aveiro, seorang tukang kebun. Cristiano Ronaldo memiliki satu kakak laki-laki bernama Hugo dan dua kakak perempuan bernama Elma dan Liliana Cátia. Nama Ronaldo yang melekat pada dirinya didapatkan karena ayahnya adalah penggemar berat Ronald Reagan, yang saat itu menjabat sebagai presiden Amerika Serikat.

Cristiano Ronaldo memulai karir sepakbolanya pada usia 8 tahun dan bertanding bersama tim Andorinha, dimana ayahnya bekerja sebagai kitman. Kemudian tangkas online terbaru dia menghabiskan dua tahun berikutnya dengan klub lokal Nacional. Karena potensinya yang besar, Sporting CP meng-hire Cristiano Ronaldo dengan biaya £1.500 (atau saat ini setara dengan Rp25 juta) ketika ia berusia 12 tahun. Bersama Sporting CP, Cristiano Ronaldo mendapat pelatihan di akademi klub sepak bola bersama dengan pemain muda lainnya. Di klub tersebut, ia menjadi satu-satunya pemain dengan usia di bawah 16 tahun selama musim tersebut.

Pada usia 14 tahun, Ronaldo percaya bahwa ia bisa menjadi pesepakbola profesional. Untuk mewujudkan impiannya, Cristiano Ronaldo menghentikan pendidikannya untuk memfokuskan seluruh energinya pada sepak bola. Setahun kemudian, Cristiano Ronaldo telah didiagnosis memiliki Racing heart, suatu kondisi di mana denyut jantung melebihi tingkat istirahat normal. Situasi tersebut membuat Cristiano Ronaldo harus memutuskan apakah ia harus melakukan operasi atau merelakan karier sepak bola-nya. Tapi hasrat untuk bermain sepak bola memaksanya untuk melakukan operasi. Berkat operasi perawatan laser yang berjalan dengan lancar, Cristiano Ronaldo dinyatakan baik-baik saja dan bisa melanjutkan latihan serta karirnya dalam bermain sepak bola.

Perjalanan Bersama Manchester United

Selama masa tugasnya dengan Sporting CP, Cristiano Ronaldo disarankan untuk masuk ke Liverpool dan Barcelona. Kemudian pada tahun 2002, ia bertemu dengan manajer Arsenal, Arsene Wenger yang tertarik untuk mendaftarkannya tetapi ada hal-hal lain yang membuat hal itu tidak terwujud. Titik balik karir Cristiano Ronaldo terjadi ketika manajer Manchester United, Sir Alex Ferguson melihat keterampilannya ketika Sporting CP mengalahkan Manchester United dengan skor 3-1 selama pertandingan prysmian stadion Estádio José Alvalade di Lisbon. Para pemain Manchester United meminta Sir Alex Ferguson untuk merekrutnya setelah penampilannya yang luar biasa melawan mereka.

Manchester United menandatangani masuknya Cristiano Ronaldo dengan biaya transfer sebesar £12,24 juta (atau saat ini setara dengan Rp 211 miliar). Biaya transfer pemain sepak bola tersebut membuatnya menjadi biaya transfer termahal untuk seorang remaja dalam sejarah sepakbola Inggris. Sir Alex Ferguson menawarkan kemeja nomor 7 pada Cristiano Ronaldo yang sebelumnya dipakai oleh pemain hebat Manchester United, George Best, Eric Cantona dan David Beckham. Ronaldo melakukan debut untuk Manchester United pada bulan Agustus 2003 melawan Bolton Wanderes, ketika ia datang sebagai pemain pengganti pada menit ke-60.

Gol pertama Cristiano Ronaldo untuk Manchester United datang dengan tendangan bebas melawan Portsmouth di mana Manchester United memenangkan pertandingan dengan skor 3-0. Musim pertama bagi Cristiano Ronaldo dan Manchester United berakhir dengan trofi Piala FA melawan Millwall. Dua musim berikutnya telah menjadi pengalaman belajar bagi Cristiano Ronaldo sambil menghasilkan “pertandingan hebat” untuk Manchester United. Pada musim November 2005-2006, Cristiano Ronaldo menandatangani kontrak baru yang diperpanjang hingga tahun 2010.

Cristiano Ronaldo Pencetak Gol Terbanyak

Pada musim 2006-2007, Cristiano Ronaldo mencetak 17 gol di liga utama di mana Manchester United meraih gelar untuk yang ke-9 kalinya. Kemudian dia memenangkan beberapa penghargaan selama musim tersebut. Prestasi utama yang ditorehkannya adalah juara kedua untuk penghargaan Ballon d’Or. Juara ketiga juga didapatkan sebagai pemain FIFA World Of The Year untuk 2007. Prestasi Cristiano Ronaldo di akhir musim 2006-2007 membuktikan setiap perkataannya yang diucapkan pada awal karirnya.

Pada tahun 2008, Cristiano Ronaldo menjadi kapten Manchester United untuk pertama kalinya dalam pertandingan di kandang sendiri melawan Bolton di mana ia mencetak dua gol untuk kemenangan. Manchester United mengangkat piala liga utama berturut-turut pada tahun 2008 dengan hasil perolehan Cristiano Ronaldo mencetak sebanyak 31 gol. Penampilan Cristiano Ronaldo membuatnya mendapatkan Penghargaan berupa Premier League Golden Boot dan European Golden Shoe. Kemudian di Liga Champions UEFA, ia adalah pencetak gol terbanyak dengan 8 gol yang membawa Manchester United meraih gelar juara liga setelah tahun 1999. Penampilannya di liga juara membuatnya mendapat gelar pemain sepak bola UEFA Club tahun itu. Cristiano Ronaldo melanjutkan kesuksesannya bersama Manchester United untuk musim 2008-2009.

Cristiano Ronaldo Pindah ke Real Madrid

Real Madrid menandatangani kepindahan Cristiano Ronaldo dengan biaya transfer sebesar £80 juta (atau saat ini setara dengan Rp1,3 triliun) yang menjadi rekor dunia saat itu sebagai biaya transfer biaya pemain sepak bola termahal. Dia melakukan debut La Liga untuk Real Madrid melawan Deportivo La Coruña. Dia juga mencetak gol debutnya di pertandingan yang sama melalui penalti. Cristiano Ronaldo kala itu diberi kaos dengan nomor 9 karena nomor 7 adalah milik Raúl. Namun akhirnya, ia mendapat kaos nomor 7 di musim 2010-2011 setelah Raul hengkang dari klub. Sepanjang musim, ia menjadi runner up untuk penghargaan Ballon d’Or dan pemain terbaik FIFA setelah Lionel Messi. FIFA Ballon d’Or adalah penghargaan internasional yang diberikan bersama oleh FIFA dan Sepakbola Prancis kepada Pemain Sepakbola Pria Terbaik Dunia.

Para pemain dipilih berdasarkan suara dari jurnalis internasional dan pelatih serta keterangan tim nasional. Penghargaan FIFA Ballon d’Or berakhir pada 2016. Cristiano Ronaldo mengakhiri musim dengan 33 gol di semua liga. Musim berikut menjadi musim bagi Cristiano Ronaldo bersama Real Madrid memecahkan banyak rekor. Dia mengangkat trofi pertamanya bersama Real Madrid melawan saingan beratnya Barcelona dan mencetak gol krusial di menit terakhir dalam pertandingan final Copa del Rey. Dalam musim tersebut, Cristiano Ronaldo berhasil mencetak 53 gol. Pada musim 2011-2012, meskipun ia mencetak banyak gol, ia sempat gagal dalam penalti yang menentukan saat melawan Bayern Munich di semifinal liga champion.

Sepanjang Sejarah Bola di Indonesia

Jika kita membicarakan soal si kulit bundar memang tidak akan ada habisnya sampai kapanpun. Apalagi kalau satu klub suporter ketemu sama suporter, pasti akan sangat seru jika membicarakan sejarah pencapaian klub masing-masing. Tidak ada salahnya juga lho, kalau kalian menjadi klub sepakbola yang loyal, asalkan kalian harus tetap suportif dan juga tetap menghargai suporter klub bola lainnya.

Sepakbola mempunyai sejarah yang panjang dalam peradaban hidup manusia. Termasuk dalam hal budayanya dan juga gaya hidup dari masyarakat dunia, tidak terkecuali di Indonesia.  Indonesia merupakan salah satu negara yang masyarakatnya sangat menggemari olahraga sepak bola. Apalagi kalau lagi ada perhelatan internasional yang melibatkan Timnas Indonesia, pasti para suporter Timnas, tidak segan-segan untuk mendukung sepenuh jiwa raga. Sebelum masuk ke sejarah sepak bola di Indonesia, buat kamu yang masih asing dengan olahraga si kulit bundar, kita bakalan sedikit membahas gambaran sepak bola secara umum terlebih dahulu.

Posisi dan Jumlah Pemain dalam Sepakbola

Kalian pasti tahu, kan kalau pemain sepak bola terdiri dari 11 orang dan bentuk formasinya ditentukan tim masing-masing. Namun, biasanya formasi sebuah tim sepak bola terdiri dari: seorang penjaga gawang, 2-4 orang pemain bertahan, 2-4 orang pemain tengah dan 1-3 orang pemain penyerang. 

Penjaga gawang adalah satu-satunya pemain yang boleh memegang bola untuk melindungi gawang dari serangan tim lawannya. Biasanya penjaga gawang memakai seragam yang berbeda dari pemain lainnya.  Pemain bertahan bertugas menjaga pertahanan dari tim lawan. Pemain tengah dibagi lagi dengan yang bermain dekat dengan penyerang dan pemain tengah bertahan yang dekat dengan pemain bertahan, sedangkan sesuai dengan namanya penyerang memiliki tugas untuk mencetak gol ke gawang tim lawan.

Sejarah Sepakbola di Indonesia

Sepakbola di Indonesia dimulai sejak tahun 1914, kala itu negara kita, Indonesia masih dijajah oleh pemerintah Hindia Belanda. Kompetisi antar kota di jawa tersebut hanya dijuarai oleh dua tim atau didominasi dua tim saja, yaitu Batavia City, Soerabaja City. Nah, sejarah sepak bola modern Indonesia sendiri dimulai pada 19 April 1930, yakni ketika PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia) terbentuk. Persatuan ini terbentuk di Yogyakarta dan diketuai oleh Soeratin Sosrosoegondo. Bisa dibilang, PSSI lahir, karena adanya kepentingan para politisi bangsa yang baik secara langsung maupun tidak, menentang penjajahan dengan strategi menyemai benih-benih nasionalisme di hati para pemuda Indonesia melalui olahraga sepak bola.

Singkat cerita, pasca Soeratin Sosrosoegondo wafat, tim nasional sepak bola Indonesia tidak banyak mencetak prestasi, sebab pembinaannya tidak dibarengi dengan pengembangan organisasi dan kompetisi. Di era sebelum tahun 1970-an, pemain-pemain sepak bola Indonesia bahkan sempat bersaing dalam kompetisi internasional. Sebut saja Ronny Pattinasarani, Tan Liong Houw, Ramang, dan Sucipto Suntoro. Lalu, seiring berjalannya waktu, PSSI memperluas kompetisi dalam negeri, misalnya dengan menyelenggarakan Liga Super Indonesia, aktif mengadakan kompetisi sepak bola wanita, dan kompetisi dalam kelompok usia tertentu (U-15, U-17, U-19, dst).

Sayangnya, sejarah panjang sepakbola Indonesia belum mampu mengubah prestasi sepak bola Indonesia di kancah internasional. Butuh manajemen bola yang bertekad untuk merubah institusi sepak bola Indonesia menjadi lebih baik lagi. Namun, tidak ada kata terlambat bagi kita sebagai generasi penerus untuk menyelamatkan dan meraih tempat di kancah internasional.  Sebagai penerus bangsa, kita harus melanjutkan perjuangan para pendahulu kita, untuk menempatkan sepak bola Indonesia di persaingan liga sepak bola dunia.

Sejarah Berdirinya PSSI

Dirangkum dari laman resmi PSSI, sejarah sepak bola modern di Indonesia dimulai dengan terbentuknya PSSI (Persatuan Sepakbola seluruh Indonesia) pada 19 April 1930 di Yogyakarta. Kelahiran PSSI juga masih memiliki keterkaitan dengan kegiatan politik menentang penjajahan lantaran dilahirkan di zaman penjajahan Belanda.  PSSI lahir karena dibidani politisi bangsa yang baik secara langsung maupun tidak, menentang penjajahan dengan strategi menyemai benih-benih nasionalisme di dada pemuda-pemuda Indonesia.

PSSI didirikan oleh seorang insinyur sipil bernama Soeratin Sosrosoegondo. Soeratin menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Teknik Tinggi di Mecklenburg, Jerman pada tahun 1927 dan kembali ke tanah air pada tahun 1928.  Ketika kembali ke tanah air Soeratin bekerja pada sebuah perusahaan bangunan Belanda “Sitzen en Lausada” yang berpusat di Yogyakarta. Di sana ia merupakan satu-satunya orang Indonesia yang duduk dalam jajaran petinggi perusahaan konstruksi yang besar itu.  Akan tetapi, didorong oleh jiwa nasionalis yang tinggi Soeratin mundur dari perusahaan tersebut. Setelah berhenti dari “Sizten en Lausada” ia lebih banyak aktif di bidang pergerakan. 

Soeratin yang gemar bermain sepak bola pun melihat olahraga tersebut sebagai wahana terbaik untuk menyemai nasionalisme di kalangan pemuda, sebagai tindakan menentang Belanda. Kemudian, Soeratun mengadakan pertemuan demi pertemuan dengan tokoh-tokoh sepak bola di Solo, Yogyakarta dan Bandung. Pertemuan dilakukan dengan kontak pribadi menghindari sergapan Polisi Belanda (PID). Lalu, gagasan pembentukan organisasi sepak bola nasional semakin matang setelah diadakan pertemuan di hotel kecil Binnenhof di Jalan Kramat 17, Jakarta dengan Soeri, ketua VIJ (Voetbalbond Indonesische Jakarta) bersama dengan pengurus lainnya. Selanjutnya dilakukan juga pematangan gagasan tersebut di kota Bandung, Yogya dan Solo yang dilakukan dengan tokoh pergerakan nasional seperti Daslam Hadiwasito, Amir Notopramono, A Hamid, Soekarno (bukan Bung Karno), dan lain-lain. Sementara dengan kota lainnya dilakukan kontak pribadi atau kurir seperti dengan Soediro di Magelang (Ketua Asosiasi Muda). Kemudian pada 19 April 1930, berkumpul lah wakil-wakil dari sejumlah tokoh sepak bola di daerah. Di antaranya dari Bandung, Yogyakarta, Solo, Surabaya, Magelang, dan sebagainya.  Dari pertemuan tersebut maka, lahirlah PSSI (Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia). Pada kongres PSSI di Solo tahun 1950, nama PSSI diubah menjadi Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia yang juga menetapkan Ir. Soeratin sebagai Ketua Umum PSSI.

Berdirinya Stadion Sriwedari

Kegiatan sepak bola kebangsaan yang digerakkan PSSI , kemudian menggugah Susuhunan Paku Buwono X. Paku Buwono X kemudian mendirikan stadion Sriwedari lengkap dengan lampu, sebagai apresiasi terhadap kebangkitan “Sepak bola Kebangsaan” yang digerakkan PSSI. Stadion itu diresmikan Oktober 1933. Dengan adanya stadion Sriwedari ini kegiatan persepakbolaan semakin gencar. Sebelum ada stadion, rakyat bermain sepak bola di alun-alun, jalanan, atau tempat lapang lainnya. 

Lebih jauh Soeratin mendorong pula pembentukan badan olahraga nasional, agar kekuatan olahraga pribumi semakin kokoh melawan dominasi Belanda. Tahun 1938 berdirilah ISI (Ikatan Sport Indonesia), yang kemudian menyelenggarakan Pekan Olahraga (15-22 Oktober 1938) di Solo. Soeratin mengakhiri tugasnya di PSSI sejak tahun 1942, setelah sempat menjadi ketua kehormatan antara tahun 1940 – 1941, dan terpilih kembali di tahun 1942. Namun, masuknya balatentara Jepang ke Indonesia menyebabkan PSSI pasif dalam berkompetisi lantaran Jepang memasukkan PSSI sebagai bagian dari Tai Iku Kai, yakni badan keolahragaan bikinan Jepang. Kemudian masuk pula menjadi bagian dari Gelora (1944) dan baru lepas otonom kembali dalam kongres PORI III di Yogyakarta (1949).